RSS

Episode 2 INNOCENT MAN


Melihat Eun Gi malah batuk darah, Jae Hee mencoba menghentikan Ma Roo yang mencoba kembali memberi pertolongan pertama pada Eun Gi. Jae Hee juga mengatai kalau Ma Roo bukan seorang dokter. Ma Roo tak menggubrisnya, ia keukeuh menyuntik dada Eun Gi . Sekiranya darah yang terambil cukup, Ma Roo menghentikannya dan mengecek nadi Eun Gi. Tekanan darahnya mulai berangsur-angsur normal. Ma Roo lega, ia pun memberitahukan kalau tekanan darah dan detak jantung pasien mulai kembali normal. Jae Hee ikut lega mendengarnya, seorang pramugari juga menambahkan kalau kondisi Eun Gi terlihat membaik. Ma Roo juga menambahkan kalau mereka harus mengawasi pasien secara extra dan memantau tekanan darah dan detak jantungnya. Terdengar pengumuman kalau mereka akan mendarat 10menit lagi. Ma Roo bertanya apakah tim medis sedang menunggu di bandara, pramugari tadi mengiyakan. Ma Roo memberitahu kalau pasien mungkin bisa bertahan 10 menit lagi, lalu membersihkan bekas suntikan di dada Eun Gi dan memplesternya. Setelah itu Ma Roo pamit pergi karena tugasnya sudah selesai, pramugari tadi mengucapkan terima kasih. Jae Hee yang tersadar beranjak bangkit ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya.


Ma Roo yang kembali ke kursi penumpang terhuyung menahan beban syok beratnya dan mungkin juga amarah.

Sesampainya di bandara, Eun Gi segera dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans ditemani Jae Hee. Dokter yang bersama mereka memuji dokter yang sebelumnya menangani Eun Gi karena memberinya pertolongan pertama yang baik pada saat situasi darurat. Jae Hee hanya terdiam ia nampak memikirkan sesuatu, entah rasa penyesalan atau bersalah?.


Sementara itu Ma Roo pulang bersama Jae Gil, Ma Roo menyetir sedangkan Jae Gil duduk di kursi belakang #udah kayak supir aja ni Ma Roo hahaha.
Jae Gil menebak kalau tadi ada Jae Hee untuk memecah keheningan, karena ia khawatir dengan apa yang terjadi jadi ia mengintip ke kelas bisnis jadi ia tahu.
“Lihat, aku benar kan? Ada rumor kalau Jae Hee menikah dengan Presiden Grup Taesan. Hanya kamu yang tidak mempercayainya! Ketika aku memberitaumu tentang berita ini, kamu mencoba menghajarku sampai menjadi bubur.”cerocos Jae Gil tanpa tahu mood sahabat di depannya. Jae Gil tahu kalau sesuatu terjadi saat itu, terbukti dengan saat Ma Roo dipenjara 6 tahun lalu Jae Hee mengunjunginya setiap waktu lalu menjadi sebulan sekali dan 2 bulan sekali.
“Aku tahu sejak itu. Dia telah pergi, wanita yang kau cintai. Pergi begitu saja.”tambah Jae Gil, ini mah Jae Gil bagai memberi garam di luka ckck.

Jae Gil mendekat ke arah Ma Roo dan menanyakan kenapa Ma Roo membunuh orang itu karena yang ia tahu Ma Roo ingin menjadi dokter untuk menyelamatkan orang. “Meskipun, kadang-kadang, amarahmu sangat tinggi. Tapi kamu pasti bukanlah orang yang ingin membunuh seseorang. Rasanya kau pasti punya alasan tersendiri.” Jae Gil terus saja nyerocos tanpa lihat sikon, ia yakin ada sesuatu yang memaksa Ma Roo untuk membunuhnya. Jae Gil menanyakan apa yang terjadi pada Jae Hee pada hari itu karena dari yang ia dengar dari Cho Ko, Ma Roo pergi menemui Jae Hee saat itu walaupun Cho Ko sedang sakit. Ma Roo habis kesabarannya, ia menghentikan mobilnya mendadak hingga Jae Gil syok.
“Apa aku sopirmu, brengsek? kenapa kau selalu duduk di belakang?!”seru Ma Roo kesal, Jae Gil beralasan kalau ia dibesarkan dengan dimanjakan dan berseru kalau ia akan duduk di depan.
“Kau harusnya bilang saja. Kenapa marah-marah?”keluh Jae Gil, saat Jae Gil keluar dari mobil Ma Roo juga sama. Tapi Ma Roo terus berjalan menjauh, Jae Gil memanggil-manggilnya karena ia tak bisa menyetir. Tapi Ma Roo tak menggubrisnya ia terus melangkahkan kakinya.


Flashback, saat Ma Roo masih kecil dan Cho Ko berumur 4 tahun-an.
Ma Roo sedang mencuci baju seraya menasihati adiknya agar tak mengompol, jika ingin pipis Cho Ko harus bilang padanya. Cho Ko malah asyik menikmati coklatnya.
“Apa kamu tidak malu sebagai seorang agasshi”ledek Ma Roo. Tiba2 datang seorang noona dengan luka2 yang berlari dari kejaran seseorang. Noona itu meminta dibiarkan sembunyi. Ma Roo menujuk ke dalam rumahnya. Noona itu bergegas masuk, tak selang beberapa menit kemudian datang lelaki paruh baya menanyakan apakah Ma Roo melihat perempuan lari ke sana. Ma Roo mengatakan tidak, lelaki itu pun pergi.


Ma Roo masuk ke dalam rumah dan mengatakan pada noona tadi kalau orang yang mencarinya sudah pergi. Noona itu nampak lega, melihat luka di sekujur tubuh noona itu Ma Roo mengambil perlengkapan P3Knya dan mengobat noona itu. “Mimpiku adalah menjadi seorang dokter. Namaku Ma Roo. Kang Ma Roo.”ucap Ma Roo seraya mengobati luka2 noona tadi.
“Aku Jae Hee. Han Jae Hee.”jawab noona tadi memperkenalkan diri, noona tadi ternyata Jae Hee kecil.
 “Aku tahu. Noona yang paling cantik di lingkungan kami.” Keduanya pun tersenyum, inilah awal pertemuan Ma Roo dan Jae Hee.
Flashback end.

Ma Roo kembali teringat saat ia dan Jae Hee duduk di bangku kuliah.
Ma Roo dan Jae Hee belajar di halaman kampus. Jae Hee mengucapkan selamat pada Ma Roo karena ia rangking satu lagi. Lain dengan Ma Roo, Jae Hee merasa ia akan gagal. “Bagaimana bisa ujian reporter lebih susah dari ujian jaksa?”keluhnya.
Melihat Ma Roo hanya diam saja, Jae Hee bertanya apa maknae anak perempuan dari hotel bintang 5 masih mencintai dan mengejarnya. Ma Roo mengiyakan.
“Kenapa kamu tidak menerimanya? Jika kamu mengambil kesempatan ini untuk bersamanya, hidupmu akan benar-benar 'game out' (tidak perlu kerja). Pasti dia jelek ya?”tanya Jae Hee. Ma Roo menjawab ia cantik, Jae Hee bertanya lalu kenapa Ma Roo menolaknya.


“Apa ini karena harga dirimu? Meskipun latar belakangmu dan dia sangat jauh berbeda, tapi di mana lagi dia dapat menemukan pria sepertimu (ganteng, pinter)? Kamu sekolah di universitas terbaik di negeri ini, fakultas kedokteran, dengan nilai terbaik. Punya kepribadian yang baik dan membuat para wanita pingsan. Dan di masa depan kamu akan menjadi dokter yang hebat. Perempuan itu akan sangat beruntung dengan menangkap pria sepertimu.”ungkap Jae Hee panjang lebar. Ma Roo yang sedari tadi sibuk membolak-balik buku untuk mencatatnya menimpali, ”tangkapan itu. Tidak bisakah noona menangkap pria itu? Secara pribadi, aku berharap noona akan menangkapnya.” Jae Hee tersenyum bahagia mendengarnya.
“Jika tidak, ya sudah lupakanlah.”lanjut Ma Roo yang tak mendapat jawaban. Jae Hee segera mengatakan kalau ia bisa. “Pria harus menjaga kata-kata mereka. Kamu tidak bisa mengambilnya lagi. Jika kamu menghianatiku, kamu akan dihukum oleh Tuhan.” Lalu Jae Hee rebahan bersandar punggung Ma Roo.
“Sekarang kamu milikku.”tegas Jae Hee, Ma Roo tersenyum mendengarnya.

Ma Roo terus melangkahkan kakinya bayang2 kedekatannya dengan Jae Hee kembali hadir. Ma Roo melihat bayang2 dirinya dan Jae Hee saat makan bersama dengan bahagia di pinggir jalam (kalau di kita mah kaki lima :D).
Berhentilah. Cukup sudah. Kita tidak bisa kembali seperti dulu. Apa yang bisa kita lakukan? Perasaan telah berubah. Tidak ada yang bisa aku lakukan? Sekarang. Aku juga, bukanlah seperti Kang Ma Roo yang dulu.” Ma Roo melihat bayang2 dirinya dan Jae Hee pergi dengan bahagia.
Berakhir. Mulai dari sekarang...Berakhir.”batin Ma Roo penuh tekad lalu meneteskan air mata.

Pengacara Park mengunjungi Eun Gi sembari membawakan makanan. Namun sesampainya di ruangan ia melihat Eun Gi makan dengan lahap ayam goreng seraya membaca laporan. Setelah beberapa kali dipanggil, akhirnya Eun Gi ngeh kalau di sampingnya berdiri pengacara Park.
“Apa Anda boleh makan makanan seperti ini? Anda harusnya makan bubur?”kata pengacara Park, bukannya menjawab Eun Gi malah memaki para pegawai yang membuat laporan yang sedang dibacanya.
“Orang yang menolongku di pesawat. Aku dengar dia bukan seorang dokter.”
“Itu yang aku dengar.”jawab pengacara Park.
“Jadi dia (Jae Hee) berani meletakkan hidupku ditangan yang bukan seorang dokter...Bagaimana bisa dia membuat keputusan seperti itu..”maki Eun Gi tiba2 ia merasakan sakit di dadanya, pengacara Park nampak khawatir. “Apa kamu tahu, kamu bisa saja hampir mati karena dokter palsu itu?”, pengacara Park mengatakan bagaimanapun juga, Eun Gi harus berterimakasih karena dokter itu ia masih hidup. Eun Gi tak terima ia merasa hampir mati karena dokter gadungan itu.

“Ngomong-ngomong, aku dengar dokter gadungan itu dan Han Jae Hee tahu satu sama lain sebelumnya. Menurutmu bagaimana tentang itu, Lawyer Park?”tanya Eun Gi. Pengacara Park menjawab ia tak tahu maksud Jae Hee. Tiba2 ponsel Eun Gi berbunyi,seseorang melaporkan kalau Jae Hee mengambil uang sebesar 1 milyar won. Eun Gi pun menyuruh orang yang memberikan informasi itu untuk mencari tahu siapa yang akan ditemui Jae Hee dan untuk apa uangnya digunakan.

Ternyata Jae Hee datang ke rumah Ma Roo, ia membawa buah2an dan beberapa kantong belanjaan. Tanpa ia ketahui seseorang membuntutinya. Di depan rumah Ma Roo ia melihat bayangan sewaktu dirinya masih kecil, duduk meringkuk menangis. Jae Hee mamalingkan wajahnya, enggan mengenang semua itu. Terdengar ribut2 dari dalam rumah mencari Ma Roo, Jae Hee mendekat melihat keributan sepasang suami istri yang menginterogasi Jae Gil.


Jae Gil yang terdesak mengatakan Ma Roo sudah imigrasi ke luar negeri, tapi sang suami tak percaya. Istrinya mencoba menghentikan suaminya. Sadar mereka pasangan suami istri, Jae Gil menegaskan walau temannya (Ma Roo) seorang playboy ia tak akan berkencan dengan seseorang yang sudah berkeluarga. Karena itu aturan pertama yang harus ditaatinya apapun alasannya. Jae Gil pun bertanya apa sang istri mengatakan kalau ia bercerai, sang istri menggeleng. Sang suami siap meninju Jae Gil. Tak ingin terjadi keributan sang istri menangis kalau sang suami sudah salah paham. Sang suami tak terima karena ia tahu istrinya menjadikan Ma Roo wallpaper hnya dan memandanginya 24jam setiap hari. Bahkan pergi ke bar setiap hari untuk menunggu Ma Roo. Jae Gil pun memanas-manasi untuk apa ahjuma itu mencintai suaminya padahal pasti masih banyak yang akan mengantri untuknya. Jae Gil pun tersadar kalau ini berhubungan dengan fansclub yang didirikan Ma Roo sejak SD dan sampai sekarang masih aktif.


Jae Gil menujukkan kekuatan dengan memecahkan balok kayu dengan dahinya untuk mengusir sang suami secara tak langsung. Jae Gil menyembunyikan rasa sakitnya.  “Ini bukanlah salahnya karena dia keren dan tampan...apa dia punya tanggung jawab atas cintamu yang bertepuk sebelah tangan?”ujar Jae Gil pada sang suami.
“Apa dia akan menemuiku setelah aku bercerai?”tanya sang istri, Jae Gil  terkejut begitu pula sang suami tak menyangka istrinya malah minta cerai.
“Kenapa kamu boleh selingkuh? tapi aku tidak? Kenapa kau mencoba menghentikanku dari obsesi ini? Aku mau bercerai denganmu untuk syarat agar bisa menemuinya secara PD.”ungkap sang istri mantap lalu melangkah pergi, sang suami pun mengejar istrinya. Jae Gil berpikir itu semua gara2 global warminghahaha. Ia pun terhenyak saat melihat Jae Hee datang.
Jae Hee bertanya apa yang dimaksud kedua orang tadi Ma Roo, Jae Gil mengiyakan. “Apa yang dia lakukan dengan hidupnya sekarang?”tanya Jae Hee.

Ternyata Ma Roo mengantar Cho Ko chek up. Dokter mengatakan kondisi Cho Ko sekarang baik2 saja, bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya. Jika Ma Roo mengikuti seperti yang dokter bilang, Ma Roo tak perlu khawatir. Ma Roo mengucapkan terima kasih lalu menghampiri Cho Ko. Cho Ko memberi isyarat pada kakaknya kalau ia masih sakit. Cho Ko pun meminta Ma Roo mengikat rambutnya, Ma Roo pun menguncir rambut Cho Ko, huwaaaa Ma Roo perhatian banget ama adiknya mau deh jadi adiknya oppa Jong Ki hahaha.


Sekeluarnya dari ruang dokter, Cho Ko menengaskan kalau ia tidak merasa baikan sama sekali. Yang sakit dirinya jadi ia yang tahu kondisi badannya. “Aku tidak enak badan. aku masih sakit. Aku sungguh sakit, tahu ga?”keluh Cho Ko, tapi Ma Roo hanya menanggainya dengan ‘hmm’.
“Aku tidak bercanda. Aku sungguh, sakit.”
“Yeah, kamu terlihat kalau kamu sedang kesakitan sekarang.”, Cho Ko hanya bisa menekuk wajahnya tahu kakaknya tak menanggapinya dengan serius. Ma Roo pun menggandeng tangan Cho Ko, Cho Ko mengatakan kalau ia ingin clubbing dan minum namun Ma Roo menimpali kalau Cho Ko harus menunggunya sebulan lagi. Cho Ko melepaskan pegangan tangannya, ia protes kenapa tak boleh clubbing, minum bahkan tak boleh ke sekolah.

“Apa ini benar-benar ‘hidup’ ? Apa hidup hanya untuk bernafas?”tanyanya. “Aku seharusnya mati saja waktu itu.”
“Cho Ko!”panggil Ma Roo. Cho Ko menambahkan jika saja waktu itu Jae Gil telat sedikit ia bisa mati waktu itu juga.
“Kang Cho Ko!”, Cho Ko terus mengeluarkan uneg2nya ia menyalahkan kakaknya yang meninggalkan sendiri yang sedang sakit demi Jae Hee. Selesai mengeluarkan uneg2nya Cho Ko melangkah pergi namun kakaknya masih terdiam. Cho Ko pun berbalik menyadari telah melukai kakaknya.
“Aku lelah, karena itu aku berteriak padamu Oppa.” Lalu Cho Ko meminta Ma Roo menggendongnya.

Jae Gil menceritakan kondisi keluarga Ma Roo, Cho Ko yang mudah pingsan dan menghabiskan sekitar $10.000 sekali berobat. Ayah Ma Roo juga punya hutang yang besar dan akhirnya meninggal karena serangan jantung gara2 melihat anak yang dibanggakan dipenjara dan menjadi ex-napi. Jae Gil juga mengatakan  karena tak punya pilihan pilihan Ma Roo berencana menjual organnya namun itu juga tak akan cukup mencover semuanya. Jae Gil sampai minum air kran di samping mereka sebelum melanjutkan ceritanya ckckckck.
“Di Korea, untuk seorang ex-napi. Mencari uang dengan normal untuk membayar hutang ayahnya dan membayar tagihan rumah sakit adiknya, hampir mustahil.” Jae Hee makin miris mendengarnya, Jae Gil menambahkan seberapa pintarnya atau bertalentanya Ma Roo, tidak ada orang yang akan mempekerjakan ex-napi. Ma Roo menggendong Cho Ko menuju rumah. Jika bukan karena Cho Ko,mungkin Ma Roo sudah bunuh diri di suatu tempat tanpa harus hidup begitu memalukan dan kotor seperti yang dilakukannya sekarang. Karena Cho Ko lah, Ma Roo mati-matian berusaha sekuat tenaga untuk bertahan.

Jae Hee sampai tidak jadi minum saat Jae Gil mempertanyakan kesalahan apa yang diperbuat Ma Roo hingga Tuhan membuat Ma Roo menderita. Mungkin Jae Hee teringat kata2 yang sama yang ia ucapkan pada Ma Roo saat kejadian pembunuhan. “Apa kalian tidak akan pergi meninggalkan tempat ini? Apa karena uang kalian tidak bisa pindah tempat?”tanya Jae Hee akhirnya.
“Tidak. Ini karena kamu Noona. Karena jika kami pindah, kamu mungkin tidak bisa menemukan kami. Oleh karena itu kami  tidak bisa pindah dari sini.”jawab Jae Gil, ia juga memberitahu kalau Ma Roo bahkan tidak tahu kalau Jae Hee sudah menikah dengan orang lain, walaupun ia sendiri sudah memberitahunya berkali-kali tapi Ma Roo tak peduli dan tetap menunggu Jae Hee hari demi hari. Jae Hee nampak merasa bersalah.

Ma Roo sampai di rumah bersama adiknya namun sayang Jae Hee sudah pergi.
Melihat buah2an dan bingkisan di dipan rumah, Ma Roo bertanya apkah ada orang yang berkunjung sebelumnya. "Huh? Oh..”jawab Jae Gil. Ma Roo minta Jae Gil membantu menyiapkan tempat tidur untuk Cho Ko. Keduanya membaringkan Cho Ko di kamarnya.
“Apa yang dokter katakan tadi di rumah sakit?”tanya Jae Gil.
“Dokter bilang kalo Cho Ko akan baik-baik saja selama dia berhati-hati.”
Jae Gil pun memberi sebuah amplop pada Ma Roo dan mengatakan kalau Jae Hee baru saja datang tadi. “Apa kamu tidak melihatnya waktu ke sini? Dia bilang padaku untuk memberikan ini padamu.”
Ma Roo menerima amplop tersebut dan membuka isinya, ternyata amplop tersebut berisi uang. Jae Gil menyampaikan pesan Jae Hee, kalau ia akan membayar utangnya pada Ma Roo dan bilang agar Ma Roo pindah dari sana dan berhenti dengan apa yang ia lakukan sekarang dan hidup dengan normal. Jae Gil juga menambahkan agar Ma Roo tak memikirkannya (Jae Hee) lagi.

Melihat Ma Roo hanya terkesiap dengan melihat jumlah uang yang di amplop. Jae Gil mengambil dan menghitungnya. Jae Gil kaget dengan jumlah satu milyar won tersebut.  “A-Aku pikir sekitar puluhan ribu dolar, karena ka-kamu sedang susah. Apa dia telah salah membawa jumlah uangnya? Apa dia seharusnya  memberikan ini kepada orang lain?”tanya Jae Gil, Ma Roo menggeleng, ia segera mengambil amplop di tangan Jae Gil dan bergegas pergi.  Terlihat Jae Hee berjalan keluar  gang jalanan rumah Ma Roo. Karena memakai hak tinggi ia keseleo hingga hak sepatu salah satunya patah. Ma Roo terus berlari mengejar Jae Hee untuk mengembalikan uangnya. Namun terlambat, Ma Roo tak bisa mengejar Jae Hee. Ia pun  meremas amplop yang ditangannya.

Jae Hee terus menyetir, ia teringat  saat kejadian pembunuhan di mana Ma Roo mengatakan kalau ia yang akan menanggungnya dan berpesan pada Jae Hee agar terus berjalan ke depan dan tak melihat ke belakang. Jae Hee juga teringat saat ia memeluk Ma Roo dan mengatakan kalau ia tak akan melupakan hutangnya selama sisa hidupnya ia akan membayarnya selama ia masih hidup. Jae Hee nampak stress mengingat semua itu. Tapi apa yang ia lakukan sekarang? Menghianati Ma Roo yang menunggu setiap hari ~_~.

Sesampainya di rumah ternyata Eun Gi sudah menunggu di taman. Keduanya minum teh bersama di bangku taman. Eun Gi mengatakan kalau ia diam2 pergi keluar dan mungkin saja Dr. Kim frustasi oleh sebab itu Eun Gi meminta Jae Hee mengatakan padanya kalau ia baik2 saja. Jae Hee merasa lega Eun Gi sembuh dengan cepat. Eun Gi mengucapkan terima kasih, karena Jae Hee ia telah menerima perawatan darurat di pesawat.
“Aku tidak melakukan apa-apa..Dokter itu yang merawatmu.”ucap Jae Hee.
“Dokter...Mereka bilang dia bukan seorang dokter.”ujar Eun Gi. Jae Hee menjelaskan kalau dokter yang menolongnya bukanlah dokter secara formal, tapi mereka bilang dia pernah sekolah di fakultas kedokteran tetapi keluar di tengah semester. Melihat ‘dokter’ itu menyelamatkan nyawa Eun Gi, Jae Hee berpikir dia pasti sangat pintar.
“Jadi kau bertemu dengan dia "yang bukanlah seorang dokter tapi punya keahlian yang sangat pintar"? Sebenarnya aku ingin bersenang-senang dengan menginterogasimu. Tapi kondisiku kurang begitu baik hari ini”. Eun Gi pun menanyakan langsung ke inti masalahnya kenapa Jae Hee memberinya 1milyar won padanya padahal dia bukan dokter formal. Walaupun syok, Jae Hee mengatakan maksud Eun Gi agar ia bisa paham dengan yang Eun Gi ucapkan. Dengan terus terang Eun Gi mengatakan kalau ia punya mata2 untuk mengawasi Jae Hee. Seminggu setelah ibunya diusir dari rumah dan akhirnya meninggal ia akan balas dendam menemukan kelemahan Jae Hee dan mengusirnya keluar seperti Jae Hee mengusir ibunya.

“Kata-katamu sangat kasar.”ucap Jae Hee menanggapi.
“Kenapa? aku baru saja bilang tentang segala rencana dan metodeku sekarang apanya yang kasar? kau memakai sebuah topeng malaikat. Sangat menakutkan untuk tidak mengetaui seperti apa kau, dengan siapa kau berencana dan lain-lainnya. Mengambil 1 milyar won untuk "dokter gadungan" dan secara pribadi memberinya ke rumahnya.”ungkap Eun Gi pajang lebar. Kemudian Eun Gi bertanya haruskah mereka mempermudahnya dengan melihat fotonya.
“Itu sebuah hadiah atas jasanya menyelamatkan hidupmu di saat situasi darurat.”jawab Jae Hee menyembunyikan keterkejutannya. Tentu saja Eun Gi tak percaya ia malah tersedak dan tersenyum.
“Aku pikir kau orang yang pintar, tapi telah berubah menjadi begitu bodoh.”ucap Eun Gi. “Terima kasih atas perawatan darurat yang kuterima di pesawat. Putri dari pernikahanmu telah selamat. Karena itu, kau memberinya 1 milyar won.”tanyanya. Apakah Jae Hee ingin ia mempercayai semua itu.
“Di pesawat, berpura-pura memberikan perawatan darurat dan membunuh putri suamimu tanpa dicurigai. Lalu kamu memberinya 1 milyar won.”tuduh Eun Gi.

Jae Hee tak terima bukan itu maksudnya, ia bangkit dari duduknya. Eun Gi ikut bangkit dan mengatakan Jae Hee tak perlu bekerja keras mencari alasan. Eun Gi tahu kalau Jae Hee berbohong. Sebelum beranjak pergi, Eun Gi berpesan agar Jae Hee memberitahukan alasannya jika sudah tahu alasan yang bagus.
Jae Hee kembali berbohong, ia mengatakan kalau diancam yang otomatis menghentikan langkah Eun Gi. Jae Hee mengungkapkan kalau ‘dokter’ itu tahu kasus kepemilikan narkoba Eun Gi di Amerika 7 tahun lalu.
“Jika media dan para pemegang saham tahu akan ini, kamu tahu masalah apa yang akan menimpamu. Kau, dirimu sendiri, seharusnya lebih tahu daripada aku. Sebagai tambahan, Sekarang para pemegang saham sedang melihat latar belakangmu untuk keberhasilan manajemen perusahaan kelak.”beber Jae Hee. Lalu berpesan agar Eun Gi berhati-hati dengan masa lalunya.
“Jika masalahmu bisa diurus dengan baik, aku akan meminta lebih soal imbalannya. Sekarang giliranku untuk merasa kecewa.”balas Jae Hee tajam lalu bergegas pergi.

Eun Gi melangkah gontai ke kamarnya, ia teringat kejadian 7 tahun lalu.
Flashback. Seorang pria meminta tolong pada Eun Gi. “Ini bukan di Korea dan karena catatan kriminalku yang dulu, ayahku tidak bisa lagi membantuku.”ucapnya.
“Jadi kau memintaku untuk memberikan pernyataan yang salah kalau narkoba itu milikku?”tanya Eun Gi. Pria itu beralasan hal itu tak masalah karena mereka sedang pacaran. Selain Eun Gi, tak ada lagi orang yang ia bisa percaya. Eun Gi enggan mendengarkan, ia beranjak pergi namun ditahan. Pria itu yang ternyata pacar Eun Gi akan melakukan apa saja yang Eun Gi minta.
“Jika kamu membantuku,ayahku akan melakukan apapun yang kamu minta. Termasuk membantu masalah finansial perusahaanmu.”bujuknya.
“Masalah perusahaan?”tanya Eun Gi. Pacar Eun Gi mendengar kalau Taesan grup sedang dalam keadaan krisis, ayahnya bisa membantunya. “Itu bukanlah hal yang besar. Lagi pula, ini pertama kalinya buatmu, jadi kamu tidak akan dihukum dengan berat. Dalam jangka panjang, itu tidak akan menjadi masalah yang buruk.” Pria itu terus memohon pada Eun Gi. Flashback End.
   
Di kamarnya, Eun Gi mencoba menghubungi seseorang. Ternyata ia menelepon pacar Eun Gi yang meminta bantuannya dulu. Pria itu ternyata sudah menikah dengan wanita lain dan memiliki seorang putri. Eun Gi yang menelepon mendengar semua kemesraan keluarga kecil mantan pacarnya. Akhirnya Eun Gi  berbicara ditelepon setelah diam saja. Ia mengatakan kalau ia Eun Gi. “Seo Eun Gi. Kamu ingat padaku?”tanya Eun Gi. Setelah memastikan keadaannya aman, mantan pacar Eun Gi menjawabnya.
“Ya. Sudah cukup lama Tapi tiba-tiba.. ada masalah apa?”jawab mantan pacar Eun Gi.  Eun Gi menjawab kalau ia punya hal yang akan dikatakannya. 
“Waktu itu, ketika aku ditahan karena kepemilikan narkoba yang seharusnya kamu yang ditahan, untuk menyelamatkan perusahaan Ayahku? Hmm.. Seharusnya aku tidak melakukannya.”ungkap Eun Gi. “Karena dalam jangka panjang, hal tersebut tidak akan menjadi hal yang buruk? Itu juga salah.”tambah Eun Gi (kenyataannya itu akan menjadi masalah Eun Gi, jika para megang saham tahu Eun Gi pernah di penjara ia pasti tak akan menjadi presdir Taesan grup).
“Karena aku mencintaimu, karena Seo Eun Gi sangat mencintai Kim Jung Ho, dia ditahan yang seharusnya bukan dia. Jika aku bilang seperti itu. Apa kamu..percaya padaku?”tanya Eun Gi. Eun  Gi pun menutup teleponnya, Jung Ho mencoba menelepon balik namun Eun Gi tak mengangkatnya malah menceburkan ponselnya ke akuarium.

Ma Roo menunggu di depan rumah keluarga Seo, ia berniat mengembalikan uang yang diberikan Jae Hee.  Ponselnya tiba2 berbunyi ternyata Jae Gil yang meneleponnya. Jae Gil berpesan untuk sementara waktu agar tak mencarinya atau meneleponnya karena ia akan bepergian ke luar negeri. Ma Roo mengiyakan ia tak akan meneleponnya. Jae Gil bertanya apa Ma Roo mengembalikan uangnya? Jae Gil membujuk Ma Roo mengambil 10% dan sisanya dikembalikan, karena buat Jae Hee jumlah itu hanya seperti membeli beberapa tas merk terkenal. Ma Roo tak menanggapinya, ia malah menyuruh Jae Gil mengurusi wanita yang disampingnya, dan mengatai wanita itu pasti 100% benar2 gila lalu menutup teleponnya.

Keluarga Seo makan bersama di meja makan di samping pengacara masing2. Selesai makan presdir Seo meminta pengacara Ahn, sekretarisnya menghadapnya setelah makan karena ada pembicaraan yang perlu mereka selesaikan. Pengacara Ahn mengiyakan, presdir Seo bersiap ke ruangannya, Jae Hee berniat mengantar namun pengacara Ahn menyela kalau ia yang akan mengatar presdir Seo karena ia juga sudah selesai makan. Dan mempersilahkan Jae Hee melanjutkan makannya, yang disetujui presdir Seo. Sekembali ke meja makan, Jae Hee menyuruh pembantunya membawa Eun Suk turun ke bawah untuk makan.

Setelah di meja makan tinggal bertiga, Eun Gi menanyakan apakah pengacara Park sudah menelepon polisi dan diiyakannya. Jae Hee tak mengerti pembicaraan keduanya. Pengacara Park mengatakan polisi perlu kesaksian dari orang yang diancam jadi Jae Hee perlu ke kantor polisi.
“Aku melaporkan dia (Ma Roo) ke polisi. Orang yang mendapatkan 1 milyar won. Setelah mengancam ibunya Eun Seok (Jae Hee).”jelas Eun Gi yang menyadari kebingungan Jae Hee. Jae Hee syok mendengarnya. Banyak hal2 yang perlu dikhawatirka akhir2 ini dan sebenarnya Eun Gi ingin menangani masalah itu sendirian namun korban pemerasan perlu pergi ke sana sendirian untuk memberikan pernyataan untuk menuntutnya. Makin syoklah Jae Hee.
Eun Gi menegaskan seharusnya Jae Hee tak menyerah dengan orang seperti itu tapi harus melawan dan menghancurkannya sampai titik darah penghabisan untuk mendapat keadilan.

Walau hujan Ma Roo masih menunggu di depan rumah keluarga Seo, ia melihat Eun Gi keluar rumah diantar pengacara Park. Ma Roo pun keluar dari mobil membawa amplopnya. Ma Roo berniat menekan bel namun diurungkannya, ia pun memutuskan menuliskan penerima amplop tersebut dan menaruhnya di kotak pos surat. Baru beberapa langkah beranjak pergi, ponsel Ma Roo berbunyi, Cho Ko meneleponnya. Ma Roo khawatir karena Cho Ko menelepon sambil menangis, ia mengira sakit Cho Ko kambuh. Namun Cho Ko mengatakan kalau beberapa polisi datang mencari kakaknya dan menggeledah semua tempat.

Tentu saja Ma Roo bergegas pulang, ia tergesa-gesa menaiki tangga menuju rumahnya. Cho Ko menunggu di depan rumah dengan cemas walau hujan. Cho Ko segera menghampiri kakaknya dan memeluknya. Salah satu polisi yang datang menanyakan apakah ia Kang Ma Roo. Yang diiyakan Ma Roo. Polisi tadi menjelaskan kalau ia datang karena Ny. Han Jae Hee menuntut Kang Ma Roo atas pemerasan.
Ma Roo tak mengerti kata polisi tadi, begitu pula Cho Ko yang tak percaya kakaknya melakukan pemerasan. Polisi tadi mengajak Ma Rook e kantor polisi. Tapi Cho Ko melarang kakaknya dibawa pergi. Polisi yang satu membawa Ma Roo  yang satunya menenangkan Cho Ko.  “Orang yang menuntuku...Siapa namanya?”tanya Ma Roo pada polisi. Polisi menjawab Han Jae Hee, Ma Roo tampak menahan kemarahan.

Cho Ko mengejar polisi yang membawa kakaknya. “Ahjusshi. Kumohon jangan bawa Oppa pergi.”pinta Cho Ko. Melihat Cho Ko terus mengejarnya dan menangis sesegukan, Ma Roo meminta waktu sebentar pada polisi. Ma Roo memayungi Cho Ko agar tak kehujanan, dan mengatakan kalau ia akan segera kembali. Cho Ko menghempaskan payung yang diberikan Ma Roo, dan bersikeras tak mempercayai kakaknya berbuat seperti itu.
“Yeah memang bukan. Aku bukan orang seperti itu, jadi pulang dan masuklah.”kata Ma Roo menenangkan. Lalu menyuruh Cho Ko masuk mengganti bajunya dan mengeringkan rambutnya serta minum obat. Cho Ko tak mendengarkan kata2 kakaknya ia malah menyuruh kakaknya menegaskan pada polisi kalau ia bukan orang jahat. Ma Roo mengerti, ia akan melakukannya lalu meminta Cho Ko masuk ke dalam rumah dan tak mengkhawatirkan dirinya. Tapi Cho Ko menolak jika kakaknya tak ikut masuk, maka ia juga tidak akan masuk. “Rumah sakit bilang kalau kamu tidak boleh basah kena air hujan. Jika sesuatu hal terjadi, kamu bisa mati.”bujuk Ma Roo.
“Kenapa jika aku mati? KENAPA JIKA AKU MATI!!!”teriak Cho Ko.
“Ya sudah, mati lah. Kamu kehujanan di sini lalu kau mati tolol!”balas Ma Roo.

Di lain tempat Eun Gi nampak berpikir, sementara Jae Hee dalam perjalanan ke kantor polisi ditemani pengacara Ahn. Jae Hee nampak ketakutan, sampai gementaran. Pengacara Ahn memperhatikan gerak2 Jae Hee dari kaca spion. Sesampainya di depan kantor polisi, pengacara Ahn mempersilahkan Jae Hee keluar karena hujan juga sudah berhenti. 

Akhirnya Ma Roo kembali bertemu dengan Jae Hee. Ma Roo menatap tajam Jae Hee. Polisi mengatakan kalau Kang Ma Roo tidak mengakui kejahatan apapun dan tetap diam jadi mereka memanggil keduanya untuk mengkonfirmasi situasinya.
Polisi menanyakan kebenaran apakah Kang Ma Roo benar2 memeras Jae Hee sebesar 1 milyar won. Ma Roo menunggu jawaban Jae Hee, nampak Jae Hee memikirkan jawabannya.
Polisi kembali menanyakan karena Jae Hee diam saja, akhirnya Jae Hee pun memutuskan mengakui pernyataannya yang sebelumnya dinyatakan Eun Gi.
“Pria yang duduk didepanku, telah mengancam keluargaku. Dengan sebuah rahasia yang berpotensi menimbulkan kerugian pada perusahaan, dan sebagai kondisi agar tidak menyebarkan rahasia itu,dia memeras 1 milyar won.”jelas Jae Hee. Ma Roo hanya terdiam memandang Jae Hee tak menyangka Jae Hee akan mengatakan seperti itu, kini ia tahu Jae Hee bukan Jae Hee yang ia kenal dulu.
Polisi bertanya apa Ma Roo mengakui semua itu. Ma Roo tak menjawabnya, ia berkutat dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya.

Aku berencana memahamimu. Aku tau aku tidak punya hak untuk memiliki noona lagi. Karena Noona dan aku, sekarang berada di dunia yang sama sekali berbeda. Karena aku lebih tahu daripada siapapun di dunia ini.” Polisi kembali menanyai Ma Roo, namun Ma Roo masih terdiam.
Bahkan jika kamu tidak pergi sejauh ini. Aku berencana untuk melupakanmu, Noona. Bahkan jika kamu tidak pergi sejauh ini,a ku berencana untuk menyerahkanmu, Han Jae Hee kepada orang yang menginginkanmu untuk pergi!

Polisi habis kesabaran ia menggebrak meja. Jika Ma Roo terus terdiam artinya ia mengiyakan tuduhan Jae Hee.


Pengacara Ahn mengantar Jae Hee pulang ke rumah. Jae Hee mengucapkan terima kasih dan masuk ke dalam rumah. Pengacara Ahn memandang kepergian Jae Hee dengan  wajah sendu, nampaknya pengacara Ahn memiki suatu perasaan pada Jae Hee. Di dalam rumah pembantunya memberi Jae Hee amplop yang dikirim Ma Roo. Jae Hee terkejut saat begitu membukanya amplop itu berisi uang yang diberikannya pada Ma Roo dikembalikan utuh.

Di ruangannya presdir Seo memarahi Eun Gi, karena sudah mengangkat beberapa karyawan sebagai pegawai tetap. Eun Gi membela diri menurutnya  pegawai yang bekerja lebih dari 10 tahun dengan perusahaan, itu normal dan adil bagi mereka diangkat menjadi pegawai tetap. Seharusnya itu bukanlah masalah mengingat 2 tahun terakhir, Serikat Pekerja sepakat untuk pembekuan upah karena resesi ekonomi mereka seharusnya memberi mereka timbal balik.
“Jika kamu memberi mereka suatu kompromi, mereka akan segera melupakan yang lain, dan mengambil kesempatan yang kita berikan! Itu yang mereka inginkan!”seru presdir Seo. Presdir Seo berpikir mungkin mereka berterima kasih saat ini tapi bagaimana jika mereka meminta untuk menambah porsi pegawai tetap. Dan jika perekonomian menjadi buruk, dan perusahaan tidak dapat bertahan tanpa restrukturisasi. Bisakah mereka memecat mereka dengan mudah? “Kita bisa mendukung mereka semua. Jika kita bekerja sama dengan serikat pekerja sekarang, kita bisa melakukannya dengan baik.”jawab Eun Gi memberi alasan. Presdir Seo marah ia melempar asbak dan pecahan kacanya melukai wajah Eun Gi.

Presdir marah dengan pemikiran Eun Gi yang masih bau kencur tak tahu kejamnya dunia bisnis.
“Jika ada tawaran pekerjaan, mereka akan berkhianat dan bisa pergi setiap saat. Aku sudah sangat mengajarimu tentang itu, apa kamu masih belum paham?! Apa kamu bodoh?!”seru presdir Seo. Presdir Seo bertanya sampai kapan ia menunggu Eun Gi paham semua itu. “Aku tidak dapat memberikan Grup Taesan kepada seseorang yang tidak dapat melindunginya.”ucapnya. Jika bukan Eun Gi, ia masih punya Jae Hee dan Eun Suk untuk mengisis posisi Eun Gi. Presdir Seo juga mempersilahkan Eun Gi pergi jika tidak bisa menanganinya seperti ibunya. Eun Gi menahan amarah mendengar ayahnya menyingggung soal ibunya.

Di kamarnya, Eun Gi memasang plester diwajahnya yang terkena pecahan asbak tadi. Jae Hee masuk membawakan minum dan menanyakan keadaan Eun Gi.
“Mungkin tidak? Rasanya ini akan meninggalkan bekas luka.”jawab Eun Gi memperlihatkan luka di wajahnya. Jae Hee menyuruh Eun Gi beristirahat, dan beranjak pergi namun kata2 Eun Gi menghentikan langkahnya. Eun Gi  mempertanyakan jalannya pemeriksaan terkait dengan pemerasan karena yang ia dengar terdakwa dibebaskan karena tak cukup bukti. Eun Gi bertanya-tanya di mana terdakwa menyembunyikan uang 1milyar won. Jae Hee tak menggubrisnya, ia beranjak pergi.
“Kau tahu julukanku "anjing gila" kan?”ujar Eun Gi yang kembali menghentikan langkah Jae Hee. Eun Gi mengatakan polisi mungkin melepaskannya namun ia tak akan pernah melepaskannya. Walaupun ia tak tahu bagaimana perasaan Jae Hee akan hal itu. Jae Hee mendekat ke arah Eun Gi dan mengatakan kalau uang 1 milyar won sudah di tangannya karena uang itu dikembalikan padanya. Eun Gi bertanya kenapa, Jae Hee mengungkapkan karena ‘Ma Roo’ gagal menjalankan misinya membunuh putri suaminya.


WELCOME RAMADHAN !!!

gak terasa ramadan dtg lg,, hampir satu minggu , tapi aku baru ngepost welcome nya sekarang,, hehehhe
maklom lha, kemarin-kemarin aku lagi sibuk ujiannn ,, hehehehe
aku jadi ingat ramadhan tahun kemarin, banyak kenangan dari bulan juli sampai november,,
aku jadi teringat semua,,, kadang aku sedih mengingatnya, terkadang senyum senyum.,..
aku ingin bulan ramadhan tahun ini . aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ingin membuat ayah bangaa , aku gak pengen liat ayah kecewa...
dan inilah aku. proses perubahan ku..
hehehehhe

Episode 1 INNOCENT MAN





Di salah satu rumah sakit swasta Korea, seorang intern (dokter magang) terlihat terburu-buru namun tetiba langkahnya terhenti manakala ia melihat berita yang dibawakan oleh salah seorang reporter wanita. Pemuda itu adalah Song Joong Ki, eh Kang Ma Roo maksudnya hahaha. Ia tersenyum memperhatikan layar TV, nampaknya Ma Roo mengenal reporter wanita itu. Ma Roo menyadari reporter tersebut melakukan kesalahan, saat akan menyebut ‘koneksi’ malah mengatakan ‘pintu belakang’. Reporter tersebut ternyata bernama Han Jae Hee.
Ma Roo mengalihkan pandangannya saat seseorang memanggilnya. “Apa yang kamu lakukan, kenapa tidak cepat kemari?”tanya orang itu. Ma Roo tersenyum salah tingkah.




Ma Roo bergegas menyusul di belakang rombongan para dokter yang akan berkunjung ke ruang pasien, pertama mereka mengunjungi pasien Kim Min Chul. Profesor Seok mendengarkan penjelasan salah satu dokter senior mengenai kondisi pasien. Ma Roo sibuk mencatat penjelasan dokter tersebut. Mereka pun pindah ke bangsal lain, sekeluarnya dari ruang pasien Ma Roo segera bertanya pada Profesor Seok kenapa ia tak bertanya pada para intern pertanyaan apapun tadi, padahal mereka sudah mengikutinya sejak awal. Karena hari itu hari terakhir PK (Magang Rotasi Klinis).



“Profesor dari departemen lain sudah bertanya sejak hari pertama, dan bahkan memberikan studi kasus. Kenapa anda tidak bertanya apapun?”tanya Ma Roo.
“Apa kamu seorang dokter?”tanya Profesor Seok balik. Ma Roo menjawab kalau ia belum menjadi dokter.
“Memakai jas dokter dan membawa buku medis, kamu sudah berpikir menjadi seorang dokter? Karena orang-orang memanggilmu 'dokter', sehingga kamu bangga akan dirimu? Yang ada dalam pikiranmu hanya 'segera cepat menyelesaikan ini'. Dan, kamu masih mengharapkanku untuk bertanya?”cecar Profesor Seok lalu bertanya pertanyaan apa yang diharapkannya ditanyakan, dan apakah Ma Roo akan paham jika ia bertanya padanya.
“Jadi... Anda tidak memberikan kami kesempatan?”tanya Ma Roo berani.
“Aku tidak akan mendapat jawaban yang berguna, jadi kenapa aku harus membuang waktuku?”, ketegangan keduanya teralihkan begitu mendengar suara ribut2 seorang pasien yang memberontak.

Mereka pun menghampiri pasien tersebut yang ternyata seorang anak kecil.
Pasien itu ingin segera pulang. Pasien terus memberontak, Profesor Seok segera meminta buku riwayat medis pasien. Dokter yang menyerahkan buku riwayat menjelaskan kalau pasien Lee Chang Yong tiba2 pingsan semalam. Profesor kembali bertanya pasien didiagnosa apa?. Dokter mengatakan kalau berdasarkan CT scan dan MRI tidak menunjukkan ada hal yang aneh, dan hal itu digunakan Profesor Seok untuk menanyai Ma Roo. “Menurutmu dia didiagnosa penyakit apa?”tanyanya. Ma Roo syok, tak menyangka akan langsung mendapat pertanyaan seperti itu.
“Bukankah ini pertanyaan yang kamu inginkan? Aku memberimu waktu 2 jam. “, Profesor Seok dan yang lainnya beranjak pergi.




Tinggallah Ma Roo dan pasien. Ma Roo pusing memikirkan jawabannya, “tidak ada riwayat trauma kepala. Tapi dinyatakan ada...Mati aku!”keluh Ma Roo. Pasien mencoba kembali melepas selang infusnya, Ma Roo yang melihatnya segera menghalaunya. “Di mana kamu mendapatkan kekuatan itu di tubuhmu yang kecil ini?”. Pasien bersikeras kalau ia tak sakit sedikitpun, jadi ia ingin pulang. Ma Roo menyuruhnya diam. “Jika kamu tidak sakit, kenapa kamu pingsan?”tanya Ma Roo. Pasien meminta dibiarkan pulang karena kakaknya tidak punya uang. Ma Roo kembali menyuruh pasien diam, karena pasien lain akan terganggu dengan keberisikannya. Karena pasien masih memikirkan biaya rumah sakit, Ma Roo menenangkannya dengan mengatakan kalau ia akan membayar tagihan pasien. “Berhentilah bercanda.”pinta pasien.
“Heh...Anak ini... apa kamu tumbuh untuk berbohong?”gerutu Ma Roo sembari mentoyor kepala pasien, tetiba pasien batuk2.
“Jangan berpura-pura, kau. Jika seseorang melihat, mereka pikir aku benar-benar memukulmu.”pinta Ma Roo seraya mentoyor kepala pasien kembali. Pasien kembali batuk2 keras, Ma Roo nampak menyadari sesuatu. Pasien muntah, “Chang Yong. Apa kamu baik-baik saja? Chang Yong, ada apa denganmu?!”tanya Ma Roo panik lalu memanggil perawat.
“Kamu orang jahat. Kenapa kamu memukul kepalaku?”keluh pasien, Ma Roo pun mengerti apa yang diderita pasien.

Ma Roo segera melapor ke Profesor Seok kalau pasien Lee Chang Yong menderita pendarahan otak. Profesor bertanya apa buktinya?.
“Pasien awalnya memiliki infeksi tenggorokan akut. Dan juga setelah batuk parah, dia akan mengalami sakit kepala yang ekstrim. Karena batuk parah, mengakibatkan meningkatnya tekanan darah, menyebabkan kerusakan pada arteri saraf.”jelas Ma Roo.
“Apakah pasien menunjukkan tanda-tanda sakit kepala atau muntah?”tanya Profesor Seok. Ma Roo menjawab pasien bilang baik2 saja pada kakaknya agar tidak membuat kakaknya khawatir. “Sebenarnya kemarin, dia menderita sakit kepala yang parah. Dan baru saja, dia tiba-tiba merasakan sakit kepala yang parah. Dan dia juga muntah seperti ini.”jelas Ma Roo sembari menunjukkan muntahan pasien yang mengenai bajunya. Saat pasien sakit dan tak mengatakan apapun kepada kakaknya hanya untuk tidak membuat kakaknya khawatir. Hal itu seperti adik perempuan Ma Roo yang juga menahan sakitnya agar tak membuatnya khawatir. Ma Roo juga mengatakan walaupun pasien terkena tumor arteri otak, tapi pasien belum cukup serius dirawat di RS.
“Jika ini merupakan tumor arteri, tetapi tidak ada tanda-tanda pada CT dan MRI scan, bagaimana kamu menjelaskan itu?”tanya Profesor Seok. Ma Roo menjawab kalau itu kemungkinan dikarenakan pendarahannya masih ringan dan emosi pasien masih tidak stabil. Karena berdasarkan studi kasus yang dibaca Ma Roo pasien yang sangat emosional tidak dapat mengendalikan amarah mereka.
“Apakah kamu tidak mencurigai kecanduan/kelebihan dosis obat?”tanya Profesor Seok lagi. “Chang Yong bukanlah semacam murid bodoh yang akan overdosis atas resep obat.”jawab Ma Roo. “Dari awal anda sudah mengabaikan pendapatku. Anda tidak ingin mendengarkannya. Apa karena itu anda tidak setuju atas diagnosis saya?”tanya Ma Roo berani.

Tetiba ketegangan keduanya reda, saat Profesor Seok mendapat telepon kalau hasil angiogram baru sudah keluar. Dari hasil itu dikatakan kalau tidak ada tanda-tanda tumor arteri otak. Profesor Seok juga mempersilahkan Ma Roo mengeceknya sendiri jika ia ragu.
“Tidak. Saya pasti salah.”jawab Ma Roo lalu membungkuk meminta maaf. Lalu Profesor Seok memberitahukan membiarkan pasien pulang jika pasien tidak lagi menunjukkan gejala lain. Ma Roo nampak tegang ia pun mencuci mukanya.



Malamnya pasien Lee Chang Yong kembali dibawa ke RS. Dalam kondisi muntah2.
Profesor Seok yang hendak pulang pun diberitahu salah seorang dokter bahwa pasien Lee Chang Yong dibawa kembali karena kembali muntah dan pingsan. Dan setelah diadakan tes ulang pasien mengalami pendarahan otak arteri. Profesor Seok pun menyuruhnya memberikan suntikan anti muntah dan pendarahan pada pasien. Profesor Seok juga menanyakan di mana dokter magang ( Ma Roo) yang mendiagnosa tumor otak arteri.
“Apa anda bicara tentang Kang Ma Roo? Dia seharusnya berada di perpustakaan atau mungkin dia pulang.”jawab dokter. Profesor Seok meminta Ma Roo dihubungi.
“Bolehkan saya bertanya kenapa?”
“Karena aku perlu mengatakan padanya kalau, ‘aku salah dan kamu benar’. Dan aku sangat malu sekarang sebagai seorang guru.”jawab Profesor Lee.



Ma Roo terlihat menapaki jalan menuju rumahnya.
Terdengar suara Profesor Seok, ”2 tahun dari sekarang, Aku pikir universitas kita akan mempunyai seorang dokter yang jenius.”ujarnya.
Ma Roo memanggil adik semata wayangnya. “Cho Ko, Oppa pulang.”seru Ma Roo.
“Hey, chocoholic! Oppa beli coklat buatmu.” Namun tak ada jawaban dari dalam rumah. Ma Roo menengok kamar Cho Ko, melihat sepatunya berada di luar, Ma Roo mengira adiknya sedang tidur.

Selesai mencuci mukanya, Ma Roo kembali memanggil adiknya. #ditiru ya reader sebelum tidur cuci muka dulu, biar kulitnya semulis oppa Ma Roo, ups :D.
“Kang Cho Ko, apa kamu tidak mau makan sebelum tidur?”tanya Ma Roo. Kembali tidak ada jawabannya, karena merasa ada sesuatu yang tak beres Ma Roo kembali memanggil-manggil adiknya. Ma Roo segera menyalakan lampu kamar, terlihat Cho Ko sudah tak sadarkan diri di lantai. “Cho Ko, sadarlah. Cho Ko, sejak kapan kamu seperti ini?”. Ma Roo segera menyandarkan Cho Ko seraya memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Lalu Ma Roo memakaikan kaos kaki dan mengajak Cho Ko ke rumah sakit sembari memaki Cho Ko yang tak terus terang kalau ia sakit. Dengan lemah Cho Ko mengatakan kalau ia baik-baik saja.
“Apanya yang baik-baik saja?! Kamu demam tinggi!”seru Ma Roo. “Setelah pulang dari rumah sakit kamu akan aku hukum.” Tetiba ponselnya berbunyi, Ma Roo mengangkatnya dan mengatakan kalau Cho Ko sedang sakit jadi ia akan menelepon kembali nanti. Tapi wanita di seberang telepon tak mau mengerti, ia bersikukuh meminta Ma Roo datang menyelamatkan seseorang. Mendengar suara putus asa noona yang menelponnya Ma Roo pun memutuskan menemuinya.

Saat Ma Roo beranjak pergi, Cho Ko menahannya dan meminta oppanya tak pergi.
“Aku sakit. Jangan pergi, Oppa.”pinta Cho Ko.
“Jae Hee unnie (wanita yang menelepon tadi) dalam keadaan darurat, aku harus pergi melihatnya. Aku akan langsung pulang untuk membawamu ke rumah sakit, jadi tunggu di sini sebentar.”jelas Ma Roo.
“Oppa, aku tidak enak badan. Aku bilang kalau aku sakit!”rengek Cho Ko dan meminta kakaknya tak pergi. Ma Roo serba salah, tapi keinginannya pergi menolong Jae Hee juga kuat. Ma Roo pun membujuk adiknya.
“Berhitunglah sampai 500, Cho Ko. Ketika kamu sedang menghitung sampai 500, aku akan pulang. Aku berjanji. Aku berjanji.”bujuk Ma Roo seraya mengulurkan kelingkingnya untuk dikaitkan, namun Cho Ko menghempaskannya dan mengatakan kalau kakaknya pergi menemui Jae Hee ia akan sakit sampai mati.
“Aku akan segera kembali. Hitung sampai 500 saja, oke?”pinta Ma Roo lalu beranjak pergi, sementara Cho Ko hanya bisa menangis.

Ma Roo bergegas menuju montel tempat Jae Hee berada. Ternyata di kamar montel tempat Jae Hee berada, sudah ada seorang lelaki terbujur kaku bersimbah darah sementara Jae Hee meringkuk di pojokan. Ma Roo segera memeriksa lelaki itu untuk memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati. Ma Roo syok karena lelaki itu sudah mati. Jae Hee bertanya apa lelaki itu sudah mati, Ma Roo mengangguk mengiyakan.
“Kenapa? Kenapa dia mati? Aku tidak membunuhnya.” Ma Roo menatap Jae Hee.
“Kenapa kamu melihatku dengan ekspresi seperti itu?”tanya Jae Hee, ia mulai panik dan tak terkendali. Ia bersikeras kalau ia tak membunuhnya. Ma Roo segera menyelimuti mayat itu dengan selimut dan menghampiri Jae Hee.

Melihat pecahan botol di tangan Jae Hee, Ma Roo bertanya apa Jae Hee memukulnya dengan itu. Jae Hee malah memecahkannya dan menggeleng. Ma Roo mengira Jae Hee melakukannya untuk melindungi dirinya karena lelaki itu akan berbuat jahat padanya. Ma Roo juga menyarankan Jae Hee menyerahkan diri karena itu tindakan pertahanan diri dan pembunuhan tak sengaja, maka pasti hukumannya ringan. Tentu saja Jae Hee menolak, ia lebih memikirkan karirnya sebagai reporter. Karirnya akan berakhir jika hal itu sampai ketahuan publik. “Apa masalahnya kalau kamu berhenti menjadi reporter? Kamu dapat memulai dengan hal yang lain.”kata Ma Roo menenangkan. Jae Hee menolak ia tak mau kembali hidup miskin. Ia sudah bekerja keras untuk menjadi seperti sekarang, tentu saja menolak kembali menjadi orang miskin lebih baik ia mati.

Jae Hee mencari pecahan beling, ia ingin bunuh diri. Ma Roo menahannya, “kenapa kamu seperti ini, Noona? Apa kamu gila?!”seru Ma Roo.
Jae Hee terus memberontak. “15 tahun terakhir, aku bermimpi menjadi seorang reporter untuk keluar dari kemiskinan. Semuanya berakhir sekarang! Biarkan aku pergi!”. Tangan Ma Roo malah yang terluka karena menahan Jae Hee. Jae Hee mencoba melihat luka Ma Roo, namun Ma Roo menghempaskan tangannya. “Apa aku tidak bisa menjadi alasankah?”tanya Ma Roo. “13 tahun terakhir, aku juga...Kamu adalah orang yang terus membuatku berjuang ketika itu tidak ada sebuah harapan. Seorang pria sepertiku...Tidak bisakah kau jadikan alasan untuk tetap hidup?”

Kini keduanya duduk tenang, “apa kamu pikir...kalau Tuhan itu ada?”tanya Jae Hee, mempertanyakan kenapa semua itu menimpanya. Ia merasa Tuhan tak adil padanya, Tuhan membiarkannya bermimpi tapi tiba-tiba membiarkannya hilang dalam sekejap. “Dia seharusnya menghancurkanku sejak awal. ‘Lakukan yang terbaik’ . ‘Kamu dapat merubah takdirmu.’ Kenapa Dia memberikanku kepercayaan? Kenapa Dia membiarkanku untuk bermimpi pada mimpi yang kosong?”, Jae Hee bertanya-tanya.
“Mungkin kamu bukan tipeNya. Seorang wanita yang sempurna dan cerdas sepertimu. Seorang wanita yang seksi dan cantik. Dia mungkin hanya dengki.”jawab Ma Roo, Jae Hee tersenyum mendengarnya. Jae Hee mengatakan kalau ia lapar dan akan pergi kantor polisi lalu meminta mereka untuk memesan semangkuk sup. Jae Hee menelepon kantor polisi dan mengatakan kalau akan menyerahkan diri namun belum selesai mengatakan itu Ma Roo merebut ponsel Jae Hee dan menciumnya U.U . #harus berbesar hati hahaha.

Setelah itu Ma Roo segera menghapus bekas sidik jari Jae Hee yang kemungkinan menempel di ruangan itu. Jae Hee bertanya apa yyang dilakukan Ma Roo, namun Ma Roo tak menjawabnya ia terus membersihkan sidik jari Jae Hee. “Ma Roo,apa ini...?”tanya Jae Hee lagi.
“Aku membunuh orang ini.”jawab Ma Roo akhirnya seraya terus membersihkan bekas sidik jari. Jae Hee kembali memanggil Ma Roo, Ma Roo bersikeras kalau ia yang membunuhnya dan Jae Hee tak tahu apa2 tentang hal itu. Jae Hee pun segera menahan Ma Roo, “Jangan lakukan itu! Jangan lakukan itu!”kata Jae Hee. Ma Roo malah menyuruh Jae Hee segera pergi dari situ. “Jangan pernah melihat ke belakang. Lihatlah ke depan. Lihatlah lurus dan ke depan.”pesan Ma Roo tapi Jae Hee menolak dan bertanya kenapa harus Ma Roo. “Tidak masalah buatku jika aku tidak menjadi seorang dokter. Tapi Noona...Kamu tidak dapat hidup jika mimpimu hancur. Aku takut jika pikiranmu akan sakit dan menderita karenanya. Dan kamu hanya mati muda seperti itu.”jelas Ma Roo, lalu menyuruh Jae Hee cepat pergi.

Di lain tempat seorang wanita muda yang semangat dan energik menawari salah satu direktur di perusahaannya karena ada yang mau dibicarakannya. Wanita itu adalah Seo Eun Gi, putri pewaris Taesan grup. “Direktur Choi, Anda akan meminta keputusan final Presdir kan?”tanya Eun Gi lalu menawari tumpangan karena ada yang mau dibicarakannya dan kebetulan jalan mereka searah jadi Eun Gi mengajaknya naik mobilnya saja. “Suatu kehormataan bagiku...untuk bisa mengendarai mobil yang anda secara pribadi yang mengemudi, Agasshi”ucap tuan Choi. Lalu bertanya kenapa Eun Gi tak memakai sopir. Eun Gi menjawab kalau amarahnya sedikit kasar jadi tak ada yang mau jadi sopirnya, bulan itu saja ia sudah memecat 3 orang. “Bukankah kamu tahu hal itu.Tapi...kamu selalu memanggilku Agasshi', apa kamu meremehkanku? atau kamu melakukannya untuk membuatku down?”tanya Eun Gi.

Tuan Choi tak mengerti. “Masih muda dan karena aku anaknya presdir, tiba-tiba menjadi atasanmu, kamu tidak dapat menerimanya huh?”tebak Eun Gi. Tuan Choi menjawab kalau bukan itu, akhirnya tuan Choi memanggil Eun Gi dengan sebutan tim leader. Tuan Choi juga bertanya kenapa Eun Gi berkata seperti itu. “ ‘Kau dapat gelar MBA dari Harver, terus kenapa?’. ‘Di umur yang masih 23 tahun, gadis kecil seperti dia, bahkan jika dia tau tentang manajemen perusahaan, seberapa banyak sih dia tahu?. Apa menjalankan perusahaan sebuah lelucon?’.... itu yang kamu telah katakan di belakangku, itu yang aku dengar.”jawab Eun Gi. Eun Gi menekankan kata yang ada ‘lelucon’ nya hingga membuat tuan Choi kaget.
Tuan Choi segera mengatakan kalau itu tak benar. “Aku bukanlah tipe orang yang memendam dendam atas hal kecil sepert itu. Jangan terlalu takut.”ucap Eun Gi menenangkannya, namun selanjutnya Eun Gi malah sedikit mengancam tuan Choi. “Tapi sekarang...Kamu harusnya sedikit takut. Jika kamu memakai obat jantung... Itu adalah ide yang bagus untuk memakannya sekarang.” Eun Gi mulai membeberkan korupsi2 yang tuan Choi lakukan saat mengakuisisi perusahaan lain mulai dari G-Shop sampai B-Shop seraya menaikkan kecepatan mengemudinya. “Direktur Choi, kamu tidak sebodoh itu. Apa kamu mungkin merencanakan sesuatu dengan perusahaan-perusahaan itu untuk mengkorupsi uang?”tanya Eun Gi to the point. “Team Leader, bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?”tanya tuan Choi. “Anda mengatakan itu membuat saya merasa seperti dituduh.”lanjut Eun Gi, ketakutan tuan Choi akan Eun Gi yang menyetirnya ugal2an (maksudnya belok sana-sini) terhenti begitu Eun Gi mengerem mendadak karena terhalang sebuah mobil. Eun Gi pun memaki dan memarahi pengemudi mobil tersebut

Keduanya melanjutkan perjalanan pulang sembari terus berbincang, “katakan apa yang kamu mau lakukan. Mau dituntut dan di borgol?? atau kamu mau mengambil 3% dari pesangonmu. Tapi kamu harus membayar kembali sisanya 97%, dan keluar dengan bangga.”tawar Eun Gi. Tetiba Eun Gi mengerem mobilnya, karena melihat di depan pintu rumahnya berdiri seorang wanita dan ayahnya keluar. Ternyata wanita itu Jae Hee dengan rok yang sudah compang-camping. Jae Hee menyerahkan dokumen yang dibawanya pada presdir Seo. “Apa kamu tahu apa yang telah aku lakukan? Untuk melindungimu, Presiden. Apa kamu tau apa yang telah aku lakukan?! Kepada seorang pria yang sangat berharga seperti hidupku...Apa kamu tahu... apa yang telah aku lakukan padanya?”cerocos Jae Hee. Presdir Seo memeluk Jae Hee untuk menenangkannya, tentu saja Eun Gi dan tuan Choi yang melihatnya syok. Eun Gi mengalihkannya dengan melanjutkan pembicaraannya dengan tuan Choi yang sempat terhenti.

Kembali ke TKP, montel tempat pembunuhan. Ma Roo menatap kosong mayat yang tergeletak di depannya. Ia teringat kata2 Jae Hee yang tak akan melupakan hutangnya (Ma Roo yang menggantikannya sebagai tertuduh pembunuh ) selama hidupnya, ia akan membalas budi Ma Roo. Terdengar suara sirine polisi, Ma Roo membuka jendela, ia melihat mobil polisi berdatangan ke montel tempat kejadian. Ma Roo segera menelepon adiknya, ia menanyakan keadaan adiknya dan meminta maaf karena ia tak bisa pulang. Ma Roo juga mengatakan kalau ia sudah menelepon Jae Gil untuk membawa adiknya ke rumah sakit. “Maaf, karena tidak bisa menepati janjiku.”ucap Ma Roo mengakhiri sambungan telepon. Ma Roo nampak berkaca-kaca dengan langkah yang ia ambil.

Karena kasus tersebut Ma Roo dihukum 5 tahun penjara.

6 tahun kemudian, tepatnya di Aomori, Tokyo

Di sebuah hotel, Ma Roo menatap kosong ke luar jendela, tetiba seorang wanita memeluknya dari belakang #getok kepalanya pakai es balok :LOL. Karena tak ingin bermain-main lagi dengan wanita itu Ma Roo memberinya uang sebesar 10juta won. Wanita itu tentu saja tak terima. Ma Roo segera menskak mat wanita itu kalau wanita itu adalah wanita mata duitan. “Kamu memilih pria yang salah kali ini. Aku bukanlah seorang yang punya banyak uang.”ungkap Ma Roo lalu beranjak pergi. Wanita tadi menyusulnya dan bertanya sejak kapan Ma Roo tahu, jika ia tahu seharusnya Ma Roo mengatakan sesuatu. Ma Roo menjawab kalau itu bukanlah masalah wanita itu mata duitan atau tidak. Ma Roo melepaskan pegangan tangan wanita itu dan melanjutkan langkahnya, namun wanita itu kembali menahannya. Wanita itu mengungkapkan kalau dengan Ma Roo ia benar2 tulus walau awalnya seperti yang Ma Roo bilang namun sekarang ia benar2 mencintai Ma Roo. “Tentu saja, kamu tidak akan percaya padaku. Bahkan jika aku menjadi kamu, aku tidak akan percaya, tapi...Itu normal kalau kamu tidak percaya, tapi...”terang wanita itu, malah sebaliknya Ma Roo mengatakan kalau ia mempercayainya. Wanita itu pun memeluk Ma Rood an meminta maaf, namun Ma Roo hanya diam tanpa ekspresi #hyaaaa tatapannya.

Di lain tempat, Eun Gi masih pulas tertidur . Pengacara Park Joon Ha yang sudah menungguinya berniat menyeka keringat Eun Gi, namun segera diurungkannya.tiba2 Eun Gi terbangun karena mimpi buruk. Eun Gi bertanya jam berapa saat itu dan kenapa sekretaris Jang tak membangunkannya hingga ia bangun kesiangan karena ada penerbangan pukul 9. Pengacara Park menjawab ia bilang pada sekretaris Jang agar tak membangunkan Eun Gi karena seminggu itu Eung Gi tidur kurang dari 7 jam. “Kerja itu bagus, tetapi...Itu bisa menjadi mematikan bagi seseorang yang punya penyakit kronis.”tambahnya.
“Tampaknya kamu tidak tahu posisimu, Pengacara Park Joon Ha. Dengan posisimu, hal apa yang membuatmu terserah untuk memutuskan...”ujar Eun Gi ketus. Apa Pengacara Park masih belum menyadarinya. “Saya minta maaf, tapi itu harus dilakukan dengan cara seperti ini. Kesehatan Direktur sudah diperingatkan oleh Dr. Kim berkali-kali.”jawab Pengacara Park memberi alasan.
“Aku pikir sebelum kamu khawatir tentang kesehatanku, kamu seharusnya mulai khawatir tentang pekerjaanmu, Lawyer Park. Jika negosiasi ini gagal, pertama yang aku lakukan adalah memecatmu.”ancam Eun Gi secara halus lalu masuk ke kamar mandi, namun keluar lagi karena ia lupa menanyakan sesuatu.
Eun Gi bertanya tentang komplain kosmetik. Pengacara Park menjawab kalau mereka harus menarik semua produk Ameriti di hotel lain yang ada di Jepang. Eun Gi yang kesal malah mentokin kepala ke dinding kayu pintu hahaha.

Eun Gi kembali masuk kamar mandi, pengacara Park hanya bisa menghela nafas lalu merapikan bedcover tempat tidur Eun Gi. Selang beberapa menit Eun Gi sudah kembali keluar hanya berbalutkan handuk. “Selain pelanggan perempuan yang mengaku telah menggunakan produk kelas rendah. Apa kamu yakin tidak ada lagi kasus yang lain?”tanya Eun Gi tiba2. Pengacara Park mengiyakan tanpa memandang Eun Gi, Eun Gi segera menyuruhnya secepatnya menghubungi pelanggan tersebut. Tapi pengacara Park tak mengerti maksud Eun Gi. “Pelanggan yang bilang setelah menggunakan kosmetik kita, memicu penyakit kulit. Kita harus meminta maaf terlebih dahulu.”jelas Eun Gi, pengacara Park mengerti. Eun Gi juga menyuruhnya memeriksa semua rekening bank anggota keluarganya. Pengacara mengiyakan, melihat pengacara park selalu menjawab tanpa memandangnya Eun Gi melihat penampilannya, ia bergegas kembali ke kamar mandi. Di depan pintu Eun Gi menghentikan langkahnya. “Kamu suka pria, kan? Kamu belum berubah suka kepada perempuan kan?”tanya Eun Gi dan dengan tenang pengacara Park mengiyakan. “Rahasiamu...Aman ditanganku. Jangan khawatir...Oppa.”


Eun Gi ditemani pengacara Park meminta maaf secara khusus pada pelanggan yang terkena penyakit kulit karena memakai produk kosmestiknya. “Atas ketidaknyamanan yang menimpa anda, saya meminta maaf atas nama perusahaan kami.”ucap Eun Gi dalam bahasa Jepang.
“Anda membuat wajah seseorang seperti ini dan hanya mengatakaan maaf? hanya itu?”, pengacara Park segera menyerahkan amplop pada pelanggan tersebut lalu keluar, pelanggan itu tersenyum melihat amplop yang berisi uang. “Dan sekarang kamu memberikan kompensasi itu dengan uang?”tanyanya. Eun Gi kembali bersujud meminta maaf dan mengatakan jika pelanggan ingin hal lain tinggal memberitahunya. Pelanggan itu tersenyum, lalu mengajak Eun Gi makan siang karena ia lapar. Eun Gi mengucapkan terima kasih.

Eun Gi mengeluarkan kimchi. Pelanggan bertanya apa itu kimchi. Eun Gi mengiyakan dan mengatakan kalau pelanggan tak menyukainya ia akan membuangnya. Pelanggan itu meminta Eun Gi agar jangan membuangnya, ia ingin merasakan kimchi sekali-kali. Eun Gi pun menyerahkannya dan pelanggan itu mencicipinya, “oishi ne”ucapnya. Eun Gi ikut makan, ia tersenyum. Setelah menikmati dessertpelanggan pamit pergi karena ia ada janji. Sebelum pergi, Eun Gi menyerahkan kosmetik yang ternyata dikomplain pelanggan itu. Eun Gi mengiyakan. “Anda baru saja memakan bahan yang digunakan untuk yoghurt.” “Jangan-jangan, kamu memberiku makanan dari kosmetik barusan ini?”tanya pelanggan sembari segera pura-pura susah bernafas. Eun Gi menyuruhnya agar tak khawatir karena kosmetiknya dibuat dari bahan-bahan alami dan organis. “Jika kosmetik kami tidak aman untuk digunakan seperti klaim anda, kalau begitu kita akan bertemu lagi di rumah sakit besok pagi? Karena saya juga memiliki kulit yang sensitif.”ungkap Eun Gi dalam bahasa Korea, pelanggan berpura-pura tak mengerti apa yang diucapkan Eun Gi dan menyuruh Eun Gi berbicara dalam bahasa Jepang. Tapi Eun Gi tahu pelanggan itu paham bahasa Korea, karena ia bisa makan kimchi dengan nyaman. Pelanggan itu terjebak ia beralasan orang Jepang juga makan kimchi dengan nyaman, padahal Eun Gi tadi mengatakan dengan bahasa Korea juga.
“Lihat, kamu paham apa yang baru saja saya katakan. Dong-po (orang Korea yang tinggal di luar negeri) Ajumma dengan aksen Jepang yang aneh, berhentilah berpura-pura.”


Tetiba pengacara Park masuk, ia menyerahkan dokumen pada Eun Gi dan membisikkan sesuatu. Eun Gi membuka dokumen itu dan memperlihatkan pada pelanggan bukti penggelembungan dana tiba2 di rekeningnya. Yang sepertinya uang itu didepositokan di rekening pelanggan oleh kompetitor perusahaan Eun Gi, World grup. “Untuk jumlah sekecil itu, kamu membuat wajahmu seperti itu?”ejek Eun Gi lalu bangkit dan menyuruh pengacara Park membawa pelanggan itu ke kantor polisi. Dan menghubungi semua media, mereka akan memberikan wawancara resmi tentang posisi mereka atas insiden itu. “Untuk World Group...siapkan pembalasan yang setimpal.”pesan Eun Gi pada pengacara Park lalu beranjak pergi.

Di bawah pohon seseorang sedang berciuman dan itu Joong Ki T.T, eh maksudnya Ma Roo sepertinya dengan wanita yang di hotel tadi ~_~.


Eun Gi yang keluar tiba2 merasa pusing, pandangannya sedikit kabur dan dadanya terasa sakit. Jae Hee segera menghampirinya. “Apa kamu baik-baik saja?”tanyanya. “Tentu saja. Apa kamu sudah mencoba spa nya? Spa di sini sangat bagus.”jawab Eun Gi. Tapi Jae Hee mengatakan sepertinya Eun Gi terlihat tak sehat. Eun Gi beralasam ia hanya ingin terlihat seperti telah bekerja dengan keras. Eun Gi juga menanyakan di mana ayahnya. Jae Hee menjawab kalau ayahnya pergi bersama sekretaris Jang dan menyuruhnya tinggal untuk menemani Eun Gi pulang. Jae Hee menyeka keringat di wajah Eun Gi, lalu menyentuh wajahnya. Jae Hee pun tahu Eun Gi demam, ia pun mengajak Eun Gi ke rumah sakit. “Kenapa kamu tidak berhenti akting. Para penonton sepertinya sudah pergi.”sindir Eun Gi sembari menahan tangan Jae Hee.
“Eun Gi.”panggil Jae Hee.
“Aku pikir, hari ini aku yang menang. Aku rasa aktingku lebih baik darimu, Han Jae Hee.” Ketegangan keduanya dihentikan saat seorang anak laki2 kecil menghampiri keduanya dan memanggil Jae Hee “mama”. Yang otomatis adik tiri Eun Gi, yang bernama Seo Eun Suk.

Eun Suk merasa bosan jadi ia datang menghampiri keduanya. “Noona, apa kamu mau bermain denganku, liat siapa yang terbaik?”ajak Eun Suk pada Eun Gi sembari memeluk Eun Gi, Eun Gi hanya tersenyum dan berkata,”dia pasti sudah sama sepertimu.”
“Kamu bukan orang asing. Kamu kakaknya. Dia hanya suka sama kakaknya...”kata Jae Hee, Eun Gi melepaskan pelukan Eun Suk. “Noona. Noona ke siapa? Aku tidak menganggapmu sebagai dongsaeng (adik) ku. Aku sudah bilang berulangkali padamu. Apa kamu bodoh?”ucap Eun Gi ketus, Eun Suk berkaca-kaca mendengarnya. “Apa kamu keras kepala?”seru Eun Gi lalu menjitak kepala Eun Suk pelan. Eun Suk segera menghambur ke ibunya dan menangis.
 “Apa yang kamu lakukan pada seorang anak kecil? Dia hanya umur 4 tahun”ujar Jae Hee.
“Sebelum dia berumur 4 tahun, dia adalah anakmu. Di umur 28, kamu menjadi istri seseorang pria yang seusia ayahmu, sehingga dia membuang istrinya yang setia. Legenda yang belum pernah terjadi sebelumnya, Han Jae Hee dan anaknya.” Eun Gi jongkok sejajar dengan Eun Suk dan mengatakan kalau ia takut dengan Eun Suk. “Aku tidak tahu kapan dia akan menunjukkan taringnya yang tajam yang dengan tiba-tiba akan....menggigitku leherku.”ucapnya lalu beranjak pergi. Eun Suk menangis Jae Hee menenangkannya.

Ternyata tak jauh dari mereka di atas jembatan merah Ma Roo menghampiri Jae Gil yang menangis. “Apa kamu akan terus menangis?”tanya Ma Roo, Jae Gil segera menghentikan tangisannya dan berpura-pura ceria. Ia sedang tidak menangis ia seperti itu karena matanya terlalu kering dan ia terus menguceknya jadi keluar air mata. “Tidak peduli seberapa bodohnya aku, oleh seorang wanita yang membohongiku dan menipuku, kenapa aku harus menangisi wanita yang membohongiku dan mata duitan?”elak Jae Gil. Namun hati dan ucapan tak sejalan sebenarnya Jae Gil belum bisa melupakannya dan masih menaruh perasaan pada wanita itu. Oh ternyata wanita yang di hotel tadi itu wanita yang menipu Jae Gil. Ma Roo menenangkan Jae Gil dengan menyerahkan buku tabungan yang berhasil didapatnya. Jae Gil tak percaya Ma Roo akan berhasil secepat itu padal baru seminggu sejak Ma Roo mengenalnya.
“Kamu dapat mengambil uangmu yang diambil oleh dia, uruslah itu. Sisanya, bantu aku untuk medepositokannya ke rekening Cho Ko.”kata Ma Roo, Jae Gil menghitung nominal tabungannya, nilainya cukup besar 135,830,000 won. “Dia memberimu seluruh tabungannya?”tanya Jae Gil. Ma Roo tak menjawabnya ia malah mengajak Jae Gil kembali ke Seoul.

Di dalam pesawat perjalanan ke Seoul seorang penumpang wanita terpesona melihat Ma Roo tertidur pulas dengan headsetnya. Jae Gil yang tak tidur dan tahu ke arah mana pandangan wanita itu segera menuliskan di koran kalau Ma Roo tukang intip, playboy dan berpikir kalau wanita adalah pelayan lalu menunujukkan pada wanita itu. Tentu saja wanita itu tak percaya begitu saja, Jae Gil merevisinya menjadi Ma Roo orang yang baik, polos, dan pria imut yang tidak punya pacar. Wanita itu nampak senang namun tak menunjukkannya secara nyata, tetiba Ma Roo terbangun ia beranjak pergi ke toilet. Hal itu digunakan Jae Gil untuk menghampiri wanita itu dan berniat meminta no. teleponnya namun tiba2 hpnya diambil seorang pria yang baru datang. Jae Gil salah tingkah melihat pria itu, wanita itu pun menuliskan kalau pacarnya seorang gangster di tangan lalu menunjukkannya pada Jae Gil. Jae Gil tentu saja syok, ia pun segera menguasai dirinya berusaha tertawa dan bercanda. “Apa kamu ingin memilikinya? itu adalah handphone LTE (Samsung Galaxy S3) terbaru! Koneksi internetnya sangat bagus dan cepat! Aku tidak keberatan soal ini...”
Adow malang nian nasibmu oppa Gwang Soo, eh Jae Gil 


Ma Roo menunggu di depan toilet, tetiba seorang wanita keluar dan langsung jatuh ke pelukannya saat ia melihat ke arah lain. Wanita itu adalah Eun Gi, Eun Gi nampak pucat tiba2 ia pingsan, Ma Roo segera menahannya. Ma Roo membaringkannya di lantai, Eun Gi terlihat sesak nafas. Ma Roo memeriksa nadi Eun Gi, 2 pramugari menghampirinya dan mencoba membangunkan Eun Gi

Jae Gil mementok-mentokkan kepala di kursi penumpang hingga mengganggu kenyamanan penumpang yang ada di depannya. Ma Roo kembali ke tempat duduknya semula. Terdengar suara pengumuman dari pramugari kalau di dalam pesawat ada orang yang sakit dan bertanya apakah ada seorang dokter di antara para penumpang, jika ada diminta datang ke kelas bisnis. Ma Roo bersikap seolah-olah tak mendengarnya ia malah kembali memasang headsetnya dan tidur. Kondisi Eun Gi masih lemah dan tekanan darahnya terus menurun ditemani Jae Hee. Salah satu pramugari datang mengabarkan kalau tak ada dokter. “Dia tidak boleh sakit seperti ini.Tidak. Tidak boleh.”ujar Jae Hee panik. Pramugari mengumumkan kembali kalau mereka butuh dokter karena ada yang sakit. Jae Gil mencubit Ma Roo untuk membangunkannya, “kamu seorang dokter kan?”tanyanya. Ma Roo tak menggubrisnya, Jae Gil pun melepas headset Ma Roo dan kembali menanyakan bukankah Ma Roo seorang dokter. Ma Roo pun mengatakan kalau ia drop out dari universitas kedokteran. Jae Gil berpikir mungkin di dalam pesawat tak ada dokter karena mereka terus mengumumkannya pasti keadaannya sangat darurat. Jae Gil menyuruh Ma Roo pergi. Tentu saja Ma Roo menolak, ia malah menyuruh Jae Gil membaca buku dan ia kembali memasang headsetnya dan tidur.

Melihat kondisi Eun Gi, Jae Hee ingin menelepon Presdir Seo. Para pramugrari mulai berkeliling ruang ekonomi menanyai apakah ada dokter di antara mereka. Melihat itu Jae Gil segera melepaskan headset Ma Roo. Jae Gil mengibaratkan seandainya itu Cho Ko. “Cho Ko bisa saja mati. Adikmu pingsan di jalan tanpa sebab. Orang-orang akan berkata, ‘itu bukan urusanku’ atau "aku tidak mengenalnya’ dan mereka hanya melewatinya. Cho Ko tidak akan pernah bisa bertahan sampai sekarang, brengsek!”. Seharusnya Ma Roo juga membantu orang lain karena ia juga menerima bantuan (orang lain membantu Cho Ko), dengan membantu orang lain nanti juga pasti ada yang akan membantu Cho Ko. Tak ingin mendengar ocehan Jae Gil terus, Ma Roo bangkit. Jae Gil tersenyum melihatnya. “Kamu akan pergi?”tanyanya.
“Itu lebih baik daripada mendengarkanmu ngoceh. Brengsek kau.”jawab Ma Roo lalu melangkah pergi. “Benar. Cho Ko adalah kelemahanmu."ucap Jae Gil tersenyum memandang kepergian Ma Roo.

Ma Roo datang ke ruang bisnis, dan meminta ijin memeriksa Eun Gi. Ma Roo memeriksa tekanan darah Eun Gi dan mencoba mendengarkan suara detak jantung Eun Gi. Ma Roo memastikannya menggunakan stestokop. Pramugari bertanya apakah kondisinya serius, Ma Roo mengiyakan. Ma Roo bertanya apa keluarga Eun Gi tidak ada. Pramugari mengatakan kalau keluarganya menelepon Presdir Seo. Tetiba Jae Hee datang, ia bertemu pandang dengan Ma Roo. Pramugari memperkenalkan kalau Jae Hee keluarganya pada Ma Roo dan Ma Roo seorang dokter pada Jae Hee. Tentu saja Ma Roo syok bukan main. “Aku bukan dokter.”ucap Ma Roo cepat. “Aku pernah sekolah kedokteran, Tapi aku di DO di tengah semester.” Ma Roo akan beranjak pergi jika itu membuat Jae Hee tidak nyaman. Jae Hee mengatakan tidak. “Pasien ini...Bagaimana ada hubungannya denganmu?”tanya Ma Roo pada Jae Hee. “Aku bukan seorang dokter, tetapi aku tidak kekurangan skill. Haruskah kita tunggu dan membiarkan dia mati?”. Jae Hee menjawab kalau pasien yang terbaring lemah (Eun Gi) itu putrinya.

“Dia putriku. Meskipun aku bukan ibu kandungnya, dia adalah anak dari suamiku.”jelas Jae Hee. Bagai mendapat pukulan balok es, rasanya belum cukup bagi Ma Roo, tiba2 seorang anak kecil (Eun Suk) yang duduk tak jauh dari mereka memanggil ‘mama’ dan Jae Hee menghampirinya. Jae Hee menenangkan Eun Suk, Ma Roo membeku bagai disambar petir. Pramugari memberitahhukan kalau tekanan darah pasien terus menurun dan memanggil Ma Roo dengan kata ‘dokter’. Ma Roo berusaha menguasai diri dari keterkejutannya dan menanyakan berapa lama mereka akan mendarat. Pramugari mengatakan mereka membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit walaupun mendarat di bandara terdekat. Ma Roo segera membersihkan tangannya dengan alkohol. “Fungsi paru-paru melemah. Detak jantung menurun. Dia bisa mati tiba-tiba.”ungkap Ma Roo. Pramugari memastikan yang dimaksud Ma Roo pasien bisa mati. Ma Roo mengatakan mereka tak punya banyak waktu, dan segera mengambil suntikan. Ma Roo bersiap menyuntik dada Eun Gi, karena hanya itu yang bisa dilakukan. Ma Roo kembali menyuntik dada Eun Gi, berusaha mengambil darah yang menumpuk di sana yang menyebabkan tamponade jantung (*CMIW ~correct me if wrong, ingat episode pertama Surgeon Bong Dal Hee, awal pertemuan Dal Hee dan dokter Ahn hehehe). Tapi tiba2 Eun Gi batuk darah.


Jae Hee segera mendekat. “Ada apa? kenapa dia seperti ini?”tanya Jae Hee panik. “Kamu tidak melakukan hal yang salah kan?”. Bukannya menjawab Ma Roo malah bertanya apa Eun Gi pernah mengalami kecelakaan mobil?
“Kamu tidak melakukan hal-hal yang salah kan?”
“Aku bertanya padamu apa dia pernah mengalami kecelakaan mobil.”
“Bukankah aku bertanya apa kamu melakukan hal yang salah!”seru Jae Hee.
“Setelah kecelakaan,apa dia mengalami salah satu patah tulang rusuknya? Kamu bilang kalau kamu ibunya.”seru Ma Roo balik. Ma Roo kembali mengganti suntikannya dan bersiap menyuntik dada Eun Gi lagi (mengeluarkan darah). Tapi Jae Hee menghentikannya. “Aku bilang ‘berhenti’. Eun Gi ku, jika sesuatu hal yang salah terjadi...Jika dia benar-benar mati...” Tapi Ma Roo malah menghempaskan tangan Jae Hee dan kembali menyuntik dada Eun Gi. “Berhenti, Kang Ma Roo! Kamu bahkan bukan seorang dokter. Aku bilang berhenti.”teriak Jae Hee. Ma Roo memandang tajam ke arah Jae Hee. 

 ==Bersambung== 



INNOCENT MAN





favorite drama aku, benar benar menyentuh hati, sampe aku nangis nonton drama ini,
aku jatuh hati bgt ama drama ini,
Drama korea Nice Guy atau Innocent Man bercerita tentang kisah seorang pria yang merasa sakit hati terhadap pacarnya karena telah dikhianati. Untuk membalas dendam dan juga untuk mendapatkan kembali cintanya, pria itu akhirnya memilih untuk memanfaatkan seoarang gadis yang hilang ingatan. konflik yang terjadi membuat drama ini sangat bagus untuk ditonton, recommend sekali deh pokoknya :)
Pemain atau pemeran utama:
  • Song joong ki = Kang ma roo
  • Moon chae won = Seo eun gi
  • Park si yeon = Han jae hee
  • Lee kwang soo = Park jae gil
Buat yang belum nonton dan tidak sabar untuk mengetahui isi ceritanya, aku kasi deh sinopsisnya ^^

SHINee - 「Breaking News」Music Video

tengah malam gini jam 1.30 pagi aku lagi gak bisa tidur, terpaksa buka si hijau trus online dehh,, hahhahhakk
sambil download video terbarunya SHINEE ^^






Copyright 2009 ♪ 1000 YEARS ALWAYS BY YOUR SIDE ♪ . All rights reserved.
Bread Machine Reviews | watch free movies online by Blogger Templates